Nov
9
2012

Tarakan Blackouts, Kenapa Bisa Terjadi?

Saya lebih senang menyebutnya rolling blackout atau secara singkat BLACKOUT daripada pemadaman bergilir, mati lampu atau semacamnya. Soalnya rada kerenan sedikit lah :D. Ini sering sekali terjadi di Tarakan bukan hanya sekali tapi setiap hari dari bisa 4 sampai 5 jam. Kenapa?

Karena kurangnya pasokan energi ke PLN untuk disalurkan menjadi listrik rumah tangga dan industri kecil menengah.

Foto oleh Herry Fitrian

Ini sebuah masalah karena menyangkut kerugian berbagai sektor. Mungkin bagi mereka yang memiliki dana lebih bisa memanfaatkan genset, namun bagi mereka yang tidak hanya bisa bersabar menunggu listrik menyala kembali. Berikut ini masalah di berbagai sektor, antara lain :

Sektor transportasi lalu lintas, cctv dan alat perekam video┬ásurveillance┬átidak berfungsi selama blackout, kecuali memiliki sistem backup. Lampu jalan protokol dan lampu pengatur lalu lintas tidak berfungsi, beberapa daerah di kota – kota besar sudah menggunakan panel surya untuk setiap lampu pengatur lalu lintasnya. Mungkin karena Tarakan masih kota kecil tapi menurut saya, sudah cukup besar dengan jumlah kendaraan bermotor roda 2 sekitar 60 kendaraan.

Sektor perdagangan, pembuat es batu rumah tangga, toko, penyimpanan ikan, warnet, wartel dan banyak lagi tidak dapat menggunakan listrik, padahal usaha mereka sangat bergantung pada listrik. Tidak ada listrik, merugikan mereka dan hasil penjualan menurun bahkan bisa rusak.

Sektor rumah tangga, di rumah bisa jadi tidak aman, baik itu bahaya pencurian atau sampai bahaya kebakaran karena menggunakan lilin sebagai penerangan di saat blackout terutama pada malam hari di saat jam tidur.

Sektor perkantoran / pemerintahan, jika instansi pemerintah atau perkantoran memiliki backup seperti menggunakan genset mungkin pegawai mereka masih bisa melanjutkan pekerjaan. Sedangkan yang tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan listriknya akan banyak pegawai yang menganggur selama blackout terjadi. Saat ini penggunaan komputer sudah mencakup seluruh jenis perkantoran baik kecil maupun besar. Sehingga butuh daya yang cukup besar untuk menyalakannya jika jumlahnya banyak.

Masih ada lagi sektor – sektor lain yang terpengaruh oleh blackout ini. Seperti peternakan, pertanian dan lain – lain. Jika kita melihat dari beberapa sektor yang sudah saya rincikan tersebut. Bisa dilihat seberapa besarnya pengaruh dari blackout tersebut. Lalu kenapa kita tidak berbenah diri.

Saat ini sudah memasuki akhir tahun 2012, Tarakan sebelumnya menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel lalu diganti dengan Pembangkit Listrik Tenaga Gas yang lebih murah, namun bahan bakar fosil tidak selamanya ada dan tidak dapat diperbaharui. Pernah sesekali saya mendengar usulan pemerintah menggunakan Tenaga Uap. Jangan senang dulu dengan kata UAP, nuklir juga sebenarnya menggunakan Uap, lalu apa sebenarnya Tenaga Uap yang bersih. Uap banyak jenisnya berasal dari Air yang dipanaskan, jika menggunakan gas atau solar (diesel) bisa langsung mengubahnya menjadi energi yang menggerakkan motor listrik / turbin.

Pemanasan air bisa dari berbagai macam sumber, yaitu panas matahari (alami) dan pembakaran dengan media lain seperti batu bara, nuklir dan bahan bakar fosil lain seperti solar atau gas, yang diusulkan di Tarakan ini adalah bahan bakar dari batu bara. Sungguh ironis, jika di tahun 2013 masih menggunakan bahan bakar fosil sebagai backup. Saya memang tidak tahu apa pekerjaan pemerintah tapi sebagai warga yang peduli terhadap lingkungan kenapa masih menggunakan bahan bakar yang terkenal paling kotor di seluruh dunia meskipun berharga murah.

Ada 4 perusahaan besar di Tarakan yang terbagi di berbagai daerah. PT. IDEC AWI, PT. PERTAMINA EP dan PT. MEDCO EP berada di wilayah Tarakan bagian selatan (Kecamatan Tarakan Barat, Timur dan Tengah) sedangkan 1 adalah PT. INTRACA di wilayah Tarakan bagian utara (Kecamatan Tarakan Utara). Jika melihat sebaran penduduk paling padat di wilayah Tarakan bagian selatan.

Lalu apa hubungannya? Saat ini seperti informasi yang saya dapatkan listrik yang diperoleh dari PLN berasal dari Gas yang di-supply oleh PT. MEDCO dan listrik yang di-supply dari PT. IDEC. Saya pernah mengikuti workshop dari Pertamina yang mengatakan bahwa mereka mencoba untuk mengembangkan energi terbarukan seperti memanfaatkan uap panas bumi, tenaga air, tenaga angin dan tenaga surya. Beberapa daerah di Pulau Jawa sudah menggunakan beberapa tenaga tersebut, ada pula bahan bakar kendaraan untuk solar dari bahan nabati bukan fosil yang disebut BIOSOLAR (sepertinya sekarang diganti PertaminaDex).

Asumsi saya jika ketiga perusahaan bagian selatan bekerja sama memfasilitasi energi listrik untuk kebutuhan perusahaan dan kebutuhan masyarakat, sebagai timbal balik antara perusahaan dengan masyarakat sekitar. Seharusnya mereka bisa mengeluarkan biaya yang relatif cukup besar untuk menyediakan sumber listrik terbarukan, contohnya saja menggunakan panel surya.

Investasi awal memang cukup besar namun setelah itu hanya biaya – biaya perawatan saja yang dikeluarkan untuk pembangkit listrik seperti ini. Kontribusi mereka juga dibutuhkan dalam masyarakat. Terutama dalam hal memberikan energi.

Hal ini harusnya ada peran kerja sama antara Pemerintah, Perusahaan Swasta, BUMN, dan Masyarakat. Jika kerja sama tersebut terwujud maka Tarakan bisa menjadi lebih baik dan permasalahan blackout ini akan segera terselesaikan.

(751)

About the Author:

Leave a comment

*