Nov
8
2012

Antrian di SPBU, Apa Penyebabnya?

Kejadian ini bukan hanya di satu kota, tapi di banyak kota di Indonesia. Dalam tulisan ini saya lebih menyinggung fenomena yang terjadi di Kota Tarakan, Kaltim. Beberapa saat yang lalu dan mungkin sampai saat ini, antrian baik motor maupun mobil cukup panjang di SPBU. Dikarenakan kurangnya pasokan bensin premium dan solar serta banyaknya kebutuhan dari pengendara kendaraan bermotor.

Sebelum men-judge apa yang terjadi sebenarnya, mari kita telaah terlebih dahulu sebab – sebab terjadinya antrian tersebut. Ternyata tidak hanya di Tarakan, Saya tinggal di Yogyakarta dan sore hari ini (maaf lupa di potret) saya melihat antrian motor 2 baris di SPBU sekitar 10-12 motor dikalikan 2 jadinya mungkin sekitar 20-24 motor lah. Sekarang kita analisa kenapa terjadi antrian sepanjang itu untuk kota sebesar ini, padahal jumlah SPBU sangat menjamur, bahkan tidak dapat dihitung dengan jari. Saya melihat itu di SPBU Jalan Adi Sucipto yang merupakan jalan utama walaupun bukan tengah kota, akan tetapi SPBU terdekat lainnya di jalan itu hanya berjarak sekitar 500 meter – 1 Kilometer. Bayangkan sedekat itu saja masih banyak motor yang antri untuk beli bensin dan SPBU tersebut rata – rata buka 24 jam.

Sekarang kembali ke Tarakan, apa sih yang membuat antrian panjang di SPBU?

Beberapa poin penting yang saya ketahui dari berbagai sumber mengatakan bahwa minyak yang di distribusikan ke Tarakan itu terbatas. Mungkin saja karena tidak adanya kilang minyak yang dipergunakan untuk memproses minyak mentah menjadi minyak konsumsi (istilah saya untuk bahan bakar yang dijual di pasaran) atau mungkin saja waktu proses yang lama menyebabkan hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan kebutuhan minyak di masyarakat.

Kedua, SPBU di Tarakan bisa dihitung dengan jari dan menurut pengetahuan saya (mohon di koreksi jika salah) ada 5 atau 6 SPBU dan yang paling utama hanya 2 yaitu SPBU Mulawarman dan SPBU Gunung Lingkas, karena saya pernah mau mengisi bahan bakar kendaraan saya di SPBU Juata (ada 2) sekitar jam 13.00 sudah tutup dan tidak beroperasi. Jika ditambah dengan poin pertama, sungguh ironis, kurangnya pasokan BBM + kurangnya SPBU.

Ketiga, banyaknya kendaraan bermotor, baik roda dua, tiga maupun lebih dari 4 termasuk truk. Menurut informasi yang saya dapat dari hasil statistik kendaraan bermotor roda 2 di Tarakan ada sekitar 60 Unit dan ini terus bertambah setiap tahunnya. Bayangkan kota kecil seperti Tarakan yang hanya 1 pulau, tidak ada kendaraan yang di bawa keluar pulau. Meskipun ada kapal feri yang bisa membawa kendaraan ke luar daerah, namun tidak seperti feri antar Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Dalam sebulan mungkin hanya sekitar 2-4 mobil dan motor yang keluar dari Pulau Tarakan belum dihitung kedaraan yang masuk melalui feri, bisa berjumlah sama atau lebih. Kendaraan bermotor butuh BBM, semakin banyak kendaraan maka semakin banyak kebutuhan. Nah, jika digabungkan dengan 2 poin di atas, maka terlihat sudah bahwa supply and demand berbeda jauh.

Keempat, banyaknya penjual eceran. Banyak kasus yang terjadi di Tarakan yaitu pengetap bensin baik menggunakan motor maupun mobil, adapula yang tertangkap hingga yang celaka namun ada juga yang selamat :). Jumlah pengecer yang menjamur menyebabkan habisnya pasokan BBM di SPBU sangat cepat dalam satu hari. Sempat terjadi masalah saat pengecer dilarang berjualan namun tetap terjadi antrian di SPBU. Apakah ini menjadi solusi terbaik?

Kelima, isu di masyarakat. Sering terjadi di setiap kota di Indonesia termasuk Tarakan. Isu – isu seperti kenaikan harga BBM, isu jumlah BBM yang kurang dan sebagainya. Mungkin kalau pemakaian secara normal tidak berlebih, sesuai kebutuhan dan tidak dijual kembali maka bisa jadi SPBU bisa melayani dengan baik.

Jika kita gabungkan ke semua faktor tadi maka akan menjadi seperti ini

Kurangnya Pasokan BBM + Kurangnya SPBU + Banyaknya kebutuhan (kendaraan) + Banyaknya eceran + Isu.

Poin pertama dapat diberikan solusi secara kasar (saya bukan orang perminyakan jadi kurang paham) mungkin bisa dengan penambahan pasokan di setiap SPBU dan di Stasiun Penyimpanan BBM Pusat (sebelum di distribusikan.

Poin kedua dengan menambah jumlah SPBU Utama, seperti daerah Kampung Satu, Kampung Empat dan Amal butuh satu untuk setiap lokasi (tergantung adanya vendor yang mau buka SPBU :P).

Poin ketiga belum bisa diambil solusi apapun, karena ini menyangkut peraturan daerah. Apakah pemerintah daerah ingin mengurangi atau membatasi kendaraan yang ada di Tarakan atau dibiarkan begitu saja. Karena harga yang semakin murah dan semakin mudah di dapat, jumlah kendaraan terus meningkat dari tahun ke tahun. Peran kita sebagai penerus bangsa juga perlu seperti memulai hidup bersih tanpa menggunakan kendaraan bermotor dan menggunakan kendaraan – kendaraan berbasis listrik atau hybrid yang lebih hemat BBM.

Poin keempat sangat sulit untuk di kurangi atau di hentikan (biasanya ada oknum dibalik semua ini). Bisa dengan pendataan dan penjatahan seperti jaman dulu kalau tidak salah pengecer sudah di jatah berapa drum setiap harinya. Namun sekarang sudah tidak lagi.

Poin kelima harus dihentikan dengan tidak sok tahu jika tidak tahu asal muasal berita yang di dapat lalu menyebarkan begitu saja tanpa tahu kebenarannya. Ini juga yang menyebabkan kericuhan dan antrian di SPBU tersebut.

Semoga kita semua tahu apa masalah yang terjadi sebenarnya. Asumsi di atas merupakan hipotesa saya dan mungkin bisa salah atau kurang. Segala kritik dapat saya terima tapi yang saya tidak terima adalah orang yang berkata seperti ini :

“Tarakan kota minyak kok ga ada minyak!”

Hanya orang bego yang bilang seperti itu (maaf) karena dengan sok tahunya dan ketidakmengertian soal perminyakan, tahunya kota minyak banyak minyaknya. Ya memang banyak, ambil saja langsung dari pompa minyak tuh banyak di Kampung Empat dan Kampung Satu, langsung masukkan aja ke motormu.

Perlu diketahui, minyak butuh proses. Pengeboran, Pengolahan, Pendistribusian sampai ke konsumen. Tidak semudah mengebor air tahu – tahu bisa dipakai. Mengebor air saja tidak langsung mendapatkan air yang super bersih. Harus melewati pengolahan terlebih dahulu (seperti PDAM) hingga sampai ke rumah – rumah untuk dapat dipakai Mandi Cuci Kakus.

Jadi, jangan menjadi sok tahu dari apa yang sebenarnya tidak kamu ketahui. Pelajari dulu, baru bicara. :)

(2002)

Related Posts

About the Author:

2 Comments+ Add Comment

  • 1 Hal lagi, tidak ada ketegasan dari pemerintah daerah. Utamanya Disperindagkop… (sekedar tambahan dari orang awam.. hehe)

    • nah itu dia.. banyak mikirin duit sendiri. ujung – ujungnya kita yang rakyat kecil gini yang ditelantarkan sedangkan mereka asik asik bermewah mewahan

Leave a comment

*