Oct
29
2012

High Work Time vs High Productivity

Belajar dari pengalaman dosen saya yang pernah kuliah di Korsel. Pak Taufik Nuruzzaman, mengatakan bahwa di Korsel dan Jepang memiliki kenyataan bahwa jam kerja di sana cukup tinggi bahkan bisa bekerja hingga larut malam. Namun berbeda dengan Negara di Eropa yang hanya membatasi waktu kerjanya sampai sore hari.

Kembali ke judul artikel ini, mengapa jam kerja tinggi lawan produktivitas tinggi? Seperti yang kita ketahui dan kita rasakan, kita sebenarnya bukan robot atau mesin dan jangankan mesin yang dapat berjalan 24 jam. Mereka juga bisa aus, rusak dan tak berguna lagi. Apalagi dengan manusia? Jam kerja tinggi hanya memperlihatkan bagaimana mereka bekerja di sebuah perusahaan namun kenyataannya apa yang dihasilkan biasa saja. Namun berbeda jika jam kerja tetap dipadatkan dari pagi sampai sore sudah pasti perusahaan memiliki target, selain itu juga memberikan kesempatan untuk karyawannya menenangkan diri atau bersenang – senang.

Kita anggap saja ada 2 perusahaan yang menggunakan 2 cara kerja berbeda. Perusahaan A mempekerjakan karyawannya 8 jam sehari selama 5 hari dan Perusahaan B mempekerjakan karyawannya overtime sampai 14 jam sehari selama 5 hari kerja. Apakah sama – sama menghasilkan? jawabannya YA, namun dengan kualitas yang berbeda. Hasil yang dikeluarkan sama tapi memiliki kualitas yang bisa berbeda. Pertanyaannya, apakah 14 jam sehari secara full time bekerja? NO! tidak ada pekerjaan secara full selama 14 jam kecuali dia robot. Manusia cepat jenuh dan bosan. 1 – 2 jam bekerja dengan pekerjaan yang sama akan membuatnya bosan, tapi tidak semuanya. Setiap orang butuh istirahat, meskipun pekerjaan di hitung lembur namun membuat karyawan kehilangan konsentrasi dalam pekerjaannya secara perlahan.

Bagi karyawan kantor mungkin tidak terlalu bermasalah apabila pingsan atau mengantuk di kantor, coba bayangkan karyawan lapangan yang menggunakan alat berat, di zona berbahaya dan butuh konsentrasi tinggi. Kadang karyawan mengejar yang namanya “uang tambahan” dari jam lembur itu. Namun bahaya juga mengancam dirinya. Bisa jadi biaya perawatan kecelakaan lebih besar 2x lipat dibandingkan gaji tambahan lembur tersebut.

Kenapa perusahaan membatasi jam kerja? karena seharusnya karyawan punya target. Itulah yang diinginkan dalam sebuah pekerjaan bukan overtime dan gaji tambahan. Setiap harinya pekerjaan selalu sama, dan itu – itu saja. Seharusnya ada target di dalamnya. Menjelang akhir pekan, harus ada planning / rencana apa saja yang dilakukan di hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan Jumat.

Ada persepsi yang salah dalam pekerjaan yaitu, pekerjaan bisa dibawa pulang. Ya memang bisa dibawa pulang tapi di rumah bukan saatnya bekerja. Saya pernah bekerja di bagian produksi di sebuah percetakan yang membayar saya per jam dengan hasil ketikan ulang dari sebuah buku yang tidak terbit lagi. Lalu dalam hati saya bertanya, mengapa harus susah payah datang ke kantor mengetik seluruh isi buku lalu pulang. Sebenarnya tidak ada target apakah 1 buku selesai dalam waktu tertentu dan mendapatkan bonus. Mau selesai 1 minggu, 2 minggu atau 1 bulan tidak masalah asalkan tugasnya selesai. Tapi ternyata tidak bisa seperti itu, diri kita sendiri yang merasakan target itu, ketikan itu harus selesai 3 hari lagi, tanpa diperintah oleh atasan. Mengapa? karena manusia cepat bosan. Karena ingin cepat selesai, kenapa tidak dibawa pulang dan diketikkan di rumah saja? Pertanyaan yang bagus, jawabannya kembali ke kalimat sebelumnya “di rumah bukan saatnya bekerja” dan kamu tidak dibayar untuk itu.

Sebuah alasan mengapa perusahaan di Eropa tidak mau mempekerjakan karyawannya melewati batas waktu kerja? Yaitu karena mereka tidak ingin mengeluarkan biaya listrik tambahan larut malam. Dalam bisnis, pengeluaran biaya seperti ini juga diperhitungkan. Pertanyaan kembali ke awal, apakah benar-benar produktif jika sampai malam hari/lembur. Pikiran buruk saya, bisa jadi hanya online, download, chat atau main game. Karena itu tadi, manusia cepat bosan. Kalau pun bekerja tambahan dari jam 5 sore – 8 malam, ada 3 jam dan 3 jam itu tidak mungin digunakan seluruhnya untuk bekerja. Saya yakin. Jika ada 30-40 menit digunakan untuk online saja. sudah membuang biaya listrik secara percuma untuk online.

Kenapa perusahaan memperhatikan waktu kerja? Yaitu konsentrasi dari pekerjanya. Bayangkan sebuah perusahaan minyak besar di dunia mempekerjakan karyawan untuk lembur merawat sumur minyak. Waktu istirahat berkurang, yang harusnya bekerja selama 8 jam menjadi 14 jam dengan istirahat 2×1,5 jam. Kurang bagi mereka tapi mereka (karyawan) juga butuh uang lembur tersebut. Tapi jika terjadi insiden di lapangan baik itu menyebabkan luka ringan atau sampai meninggal dunia. Hal ini akan ditanggung oleh perusahaan, dan jam kerja aman akan di reset menjadi NOL. Semuanya di mulai dari awal lagi, padahal bisa menjadi prestasi sebuah perusahaan jika memiliki jam kerja tanpa insiden yang tinggi.

Kita yakin pasti menginginkan high work time and high productivity.. but it is impossible.. sangat sulit melakukan hal itu.  Mesin saja bisa lebih cepat rusak jika dipergunakan seperti itu :) Kita kembali ke pepatah jawa, ALON ALON WATON KELAKON :)

(556)

About the Author:

Leave a comment

*