Oct
23
2012

Love and Other Drugs

Beberapa dari kita mungkin tahu film ini, sebenarnya ini bukan film action tapi lebih ke film romansa komedi. Apa yang bagus dari film ini? Bagi yang sudah pernah nonton mungkin tahu kalau film ini banyak sekali adegan 21++nya bahkan (maaf) bagian atas tubuh tidak tersensor atau tertutup jika dibandingkan dengan film – film lain. Akan tetapi, bukan itu yang menjadi hal utama yang akan saya ceritakan di sini. Ini soal pesan moral dari film yang berdurasi 112 menit ini.

Cerita diawali oleh seorang lelaki dari keluarga pebisnis yang menginginkan anaknya untuk bekerja di kantor, namun dia tidak mau menuruti kedua orang tuanya dan bekerja menjadi pramuniaga di sebuah toko elektronik. Keluarnya dia dari toko itu karena ketahuan (maaf) berhubungan intim dengan pramuniaga lainnya. Akhirnya ia pun menuruti untuk menjadi seorang sales obat yang bekerja menawarkan obat di setiap rumah sakit dan dokter – dokter. Karena kebiasaan buruknya, yaitu sering mengajak wanita untuk berhubungan intim. Setiap kali bertemu wanita di rumah sakit, selalu di ajaknya bermalam. 😛

Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang wanita yang menderita penyakit parkinson. Walau akhirnya melakukan hal tersebut juga pada wanita itu, namun hal ini berbeda dia merasa berubah.  Bahkan ia ingin menjalin hubungan yang lebih dalam dengan wanita itu. Meskipun dia tau wanita itu mengidap penyakit yang sulit disembuhkan.

Akhirnya, setelah sekian lama bersama dan dia juga berhasil dalam penjualan obat disebuah rumah sakit. Dia diajak untuk menghadiri expo di Chicago bersama wanita itu. Disitulah mereka menemukan kelompok penderita parkinson, si wanita cukup senang karena dia merasa bukan dia sendiri yang menderita penyakit itu bahkan ada yang lebih parah namun masih bisa menikmati hidup.

Di sisi lain, Jamie (nama laki-laki itu) bertemu dengan seorang laki – laki yang memiliki istri penderita parkinson stadium 4. Di situlah dia menanyakan apakah solusi untuk penyakit itu dan jawabnya tidak ada, pria itu pula menyarankan agar dia meninggalkan kekasihnya karena itu adalah saran terakhir. Tapi dia tidak tinggal diam, dia sangat menyayangi kekasihnya. Dia menanyakan banyak rumah sakit di seluruh Amerika Serikat untuk mengobati kekasihnya tapi gagal.

Akhirnya kekasihnya merasa Jamie tidak mau menerima dirinya dengan penyakit itu. Ini yang membuat kekasihnya ingin menjauh dari Jamie dan kemudian mengusirnya dari Apartemen. Seiring keberhasilan Jamie yang kemudian akan dipindahkan ke Chicago di saat kepindahannya itulah dia teringat kepada mantan kekasihnya. Kemudian dia mencari kekasihnya itu karena dialah wanita yang dapat mengubah hidup Jamie.

Pesan dari kisah ini, meski mungkin pasangan kita punya penyakit bawaan ( bukan penyakit itu lo.. 😀 ), dia akan sembuh jika kita ada di sisinya dan selalu menemani hari – harinya bukan meninggalkannya begitu saja. Walau seperti pada kisah itu, wanita tersebut yang memilih untuk menjauh tapi sang pria tetap ingin bersamanya. Cinta itu bukan dilihat secara fisik, tapi secara batin melalui hati. Cintailah pasangan kita apa adanya, kalau dia tidak cantik, tidak sempurna, tidak indah seperti wanita lain. Tapi lihatlah hatinya, bagaimana dia mencintai kita dengan tulus hatinya, bagaimana dia menerima kekurangan kita, mengapa kita tega meninggalkan dia karena kekurangannya sedangkan dia menerima kita apa adanya. Cintailah sepenuh hatimu, maka kamu akan menemukan arti cinta yang sebenarnya.

(600)

About the Author:

Leave a comment

*