Oct
15
2012

Renungan.. Kenapa kita sulit bersyukur?

Kota – kota besar di Indonesia bisa dikatakan tidak pernah tidur, seperti Kota Yogyakarta yang saya tinggali ini. Meski kita jalan – jalan jam 23 sampai jam 3 dini hari pun masih ada yang berjualan dan menjajakan dagangannya. Mulai dari makanan ringan, makanan berat, rokok sampai… ya.. tau lah apa yang di dagangkan kalau sudah tengah malam :P.

Tapi, secara sadar atau tidak jika kita melihat mereka menjual dagangannya sampai larut malam. Pernahkah kita berfikir, berapakah untungnya? setimpal tidak dengan rasa lelah yang dirasakannya? itulah mereka yang mencari rezeki. Meskipun lelah, capek sampai larut malam, saya sangat salut dengan mereka yang masih tetap bertahan dengan dagangan yang halal.

Malam itu sekitar jam 23 malam waktu Jogja, seperti biasanya kalau habis ngerjain tugas, tiba – tiba perut lapar dan warung tengah malam lah yang dicari. Untung saja masih warung nasi goreng Sapen itu masih buka (soalnya sudah bosen sama nasi goreng yang di dekat kos). Sambil menunggu nasi gorengnya jadi, saya melihat ada seorang bapak sambil mendorong gerobak jualannya. Kalau dilihat apa yang ada di gerobaknya, sepertinya jualan wedang ronde. Minuman yang berasal dari jahe dan ada beberapa tambahan lagi di dalamnya (saya ga tau apaan) tapi yang jelas enak kalau di minum malam – malam, bisa menghangatkan badan.

Saya itu orangnya ga tegaan, apalagi lihat orang yang sampai larut masih semangat berjualan keliling kampung. Mungkin banyak yang seperti dirinya sudah punya lahan jualan sendiri. Tapi ini berbeda, karena tidak memiliki lahan atau mungkin ingin mendapatkan rezeki yang lebih dengan cara berkeliling kampung. Bisa jadi, meskipun menetap tetapi kurang pelanggan susah juga. Kalau dilihat postur tubuhnya mungkin bapak itu berumur sekitar 40-50 tahun, hampir seperti bapak saya. Jika saya melihat orang yang seperti itu, apalagi hampir mirip bapak saya. Saya langsung teringat dengan keluarga di rumah, maklum merantau ke negeri seberang :).

Bukannya menyamakan, tapi saya bayangkan kalau itu bapak saya sendiri. Mencari rezeki untuk menafkahi keluarga sampai larut malam. Dari sanalah saya bersyukur, orang tua saya hanya bekerja di siang hari dari pagi sampai sore dan di malam hari kita dapat bercengkrama dan berkumpul. Tapi berbeda dengan bapak penjual ronde tadi, kapan dia bisa berkumpul dengan keluarga? padahal kalau dipikir dia pasti punya anak, istri.. Bapak saya juga sering mengingatkan dan memberi gambaran seperti itu kepada saya dan adik saya. Ketika kami sekeluarga pergi jalan – jalan menikmati keindahan kota, disanalah ada orang – orang yang bertugas membersihkan sampah dan memasukkannya ke dalam truk sampah. Lalu bapak saya bilang, “kalian harus bersyukur, coba lihat orang – orang itu. Saat kita bisa jalan – jalan sekeluarga, tapi mereka malah bekerja demi kebersihan kota”. Tanpa mereka siapa yang mau? Tapi mereka mengorbankan waktunya bersama keluarga untuk bekerja, untuk menafkahi kelurga dan demi kebersihan kota. Sungguh mulia pekerjaan mereka dan itu bukanlah pekerjaan yang haram.

Di sisi lain kita melihat bagaimana mereka berusaha untuk membiayai sekolah anak – anak mereka dan bahkan anak mereka pula mencari nafkah sendiri untuk biaya sekolahnya. Sadarkah kita, terkadang kita malas untuk pergi ke sekolah. Bosan dengan pelajaran di sekolah dan bahkan berfoya – foya dengan uang SPP yang harus dibayarkan. Pernahkah kita tersadar bahwa di saat kita memilih untuk bolos sekolah, dan di saat yang sama pula di tempat yang mungkin masih di sekitar kita ada yang berusaha untuk pergi ke sekolah meski dengan baju yang lusuh tanpa sepatu dan buku pelajaran. Tapi mereka masih bisa bersyukur memiliki hal seperti itu asalkan masih bisa pergi ke sekolah.

Coba lihat sekeliling kita.. fasilitas yang diberikan orang tua, kendaraan, uang jajan, komputer, laptop, hape, segala macamnya. Kita tinggal pakai, kita tinggal gunakan tanpa harus susah payah bekerja keras, banting tulang sampai harus berjualan panas – panas di siang hari atau sampai ngantuk-ngantuk di malam hari. Dengan semua kemudahan itu, kenapa kita sulit untuk mensyukurinya. Mereka memang memiliki keterbatasan, bahkan tidak memiliki fasilitas yang lengkap seperti yang kita punya. Tapi mereka punya 2 hal yang tidak kita miliki.. yaitu SEMANGAT dan BERSYUKUR. Tujuan hidup kita bukan mengumpulkan harta sebanyak – banyaknya akan tetapi bagaimana kita selalu bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita dan bagaimana agar kita bermanfaat bagi orang lain.

Ingatlah, kita tidak sendiri di dunia ini dan cobalah untuk selalu memandang ke bawah bukan ke atas. Karena disitulah kita akan mudah untuk bersyukur dan memiliki kembali semangat untuk dapat menjadi bermanfaat bagi orang lain.

(1170)

About the Author:

Leave a comment

*