Sep
15
2012

Makan murah? Perlu hati – hati.

Tinggal di kota besar, ancaman kesehatan semakin bertambah. Apalagi banyaknya makanan murah dan abal – abal. Sebagai seorang mahasiswa yang tinggal di sebuah kota besar di pulau Jawa. Hal ini merupakan hal yang serius dan butuh perhatian lebih. Kebanyakan mahasiswa lebih memilih menghemat pengeluaran dengan mencari makanan yang relatif murah untuk dapat mengisi perut atau banyak juga yang jajan di sembarang tempat dan juga memilih fast food.

Baru – baru ini, masih di bulan September ada sebuah berita tentang daging ayam tiren yang dijadikan bakso di daerah Bantul. Sungguh mengerikan, apalagi banyak sekali yang menyukai bakso dan mie ayam di kota ini. Kalau memilih makanan segar di pasar, mungkin kita bisa membedakan antara ayam tiren dan ayam segar. Tapi, bagaimana kalau ayam tiren tersebut telah di giling dan dijadikan bakso? bukan hanya HARAM bagi umat Islam karena sudah termasuk bangkai, tapi juga mengandung bahan – bahan kimia berbahaya yang melebihi batas aman untuk di konsumsi.

Selain itu, ada pula darah yang sengaja di bekukan, kemudian dipotong – potong hingga berbentuk seperti hati atau bisa juga campuran daging sapi dengan daging babi yang bahkan kita tidak tahu. Saya pernah mendapatkan nasehat dari seorang ibu kos di wilayah dekat kampus yang mana selalu menasehati anak – anaknya untuk tidak sembarangan mengkonsumsi makanan, apalagi harganya di bawah standar. Contohnya saja 1 ekor ayam potong segar yang dijual di pasaran ambil saja paling murah Rp. 30.000/kg tanpa kepala, ceker dan telah dibersihkan isinya. Jika ayam tersebut dibagi menjadi 4 bagian yaitu 2 dada dan 2 paha. maka akan seharga sekitar Rp. 7.500,- itu hitungan kasarnya. Kita bisa memperkirakan ukuran ayam utuh dan terpotong. Biasanya warung makan memberikan 6 bagian ayam. Sehingga bisa lebih murah dan banyak dan menjadi seharga Rp.5.000 per potongnya. Jika ayam tersebut sangat-sangat murah yang mungkin bisa menyentuh angka Rp.2.500-Rp.3.500 per potong kita perlu mencurigai asal mula ayam tersebut.

Menjadi mahasiswa kita perlu lebih hati – hati terutama makanan yang dijual di pinggiran. Selain sudah tidak higinis juga jaminan kesehatannya kurang. Lebih baik masak sendiri atau dari catering yang memang terpercaya. Karena sebagai mahasiswa yang merantau jauh dari tanah kelahiran. Akan sangat kesulitan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti terkena penyakit menular dan sebagainya.

 

 

 

(505)

About the Author:

Leave a comment

*