Apr
5
2011

Mentah atau Matang Seluruhnya?

Ini masih berhubungan dengan fotografi, bukan acara masak memasak tentunya. Saya baru menyadari hal ini setelah hampir 1 tahun menggeluti dunia fotografi. Biasanya menggunakan format JPEG untuk setiap foto yang saya rekam. Namun ternyata, menggunakan format RAW untuk foto akan lebih leluasa dalam koreksi kesalahan saat pengambilan gambar.

Memang, ukuran dari file RAW sendiri bisa mencapai 14MB berbeda dengan JPEG yang hanya sekitar 5- 6MB. Tapi ini kembali kepada kebutuhan. Jika foto tersebut untuk pekerjaan atau lomba. Saya lebih memilih untuk menggunakan RAW. Karena untuk meminimalisir terjadinya kesalahan eksposur dan pemilihan white balance di lapangan.

Mengapa berbeda dengan JPEG? Sesuai dengan judul di atas. JPEG adalah makanan yang sudah matang. Semua pasti tahu, jika makanan sudah matang akan sulit untuk dikreasikan lagi atau memiliki jumlah kreasi yang sedikit. Dibandingkan dengan makanan yang masih mentah. Yang masih bisa dikreasikan menjadi berbagai makanan lain.

Jika kamera anda memiliki RAW Processing. Anda dapat mengkonversikannya menjadi JPEG sekaligus mengatur WB, eksposur, dan style nya. Berbeda dengan JPEG yang hanya bisa menaikkan D-Lighting (pada Nikon) untuk meningkatkan eksposur dan itupun hanya 1 level. Juga hanya bisa memberikan filter effect.

Dengan bisa menguasai kamera yang dimiliki, saya yakin tanpa bantuan Ashop Photodobe pastinya bisa me-retouch foto yang sekiranya kurang bagus. Keuntungan lain dari RAW adalah melakukan Image Overlay. Yaitu menggabungkan 2 foto RAW menjadi satu. Sama halnya dalam memotret multi eksposur.

Pesan saya, jika baru memiliki kamera. Kuasai kamera beserta lensanya sebelum beranjak untuk menambah peralatan. Karena itu semua hanyalah ALAT (kata pak Agus Leonardus). Terlalu banyak peralatan juga akan menyulitkan dalam sesi pemotretan (selain susah membawanya. Juga dari segi keamanan sangat rawan).

maaf belum ada gambarnya. :)

(417)

About the Author:

Leave a comment

*