Oct
31
2010

I can’t breathe……

Pasca hujan abu pada Sabtu, 30 Oktober 2010 di wilayah Yogyakarta bagian tengah dan barat (Alhamdulillah rumah pamanku tidak terkena hujan abu). Wilayah paling tebal di daerah Jakal, jalan magelang sampai ke baratnya. Masalah yang muncul adalah penyakit pernafasan.

Walaupun hujan abu sudah selesai pada Sabtu pagi itu. Tapi debu yang jatuh kembali naik jika dilalui kendaraan. Sebagian besar kendaraan seperti mobil dan motor banyak yang berlapis abu vulkanik. Hingga hari ini (Minggu, 31 Oktober 2010) konsentrasi abu vulkanik masih tinggi. Walaupun pada malam harinya sudah turun hujan (air) tapi abu yang mengering akan kembali berterbangan.

Sejak hujan abu tersebut sebagian besar warga Yogyakarta mengenakan masker. Walau sebelumnya hanya para pengungsi dan warga lereng merapi yang mengenakan masker (pasca letusan pertama yang menewaskan sekitar 15 orang di dusun Kinahrejo).

Saya pun harus menggunakan masker seperti ini.  (gambar hanya ilustrasi)

Bukan karena erupsi langsung beli yang seperti ini. Tapi masker ini sudah saya beli sejak bulan Mei 2010. Sebelum ada tanda-tanda erupsi dari Merapi. Akhirnya, wajib saya gunakan juga masker itu walaupun agak sesak rasanya di muka.

Abu vulkanis berbeda dengan debu pasir biasa. Abu vulkanis dapat menyebabkan penyakit pernafasan. Apalagi ukurannya yang sangat kecil dan halus.

Akibat dari abu vulkanis seperti yang dilansir kompas.com.

Lontaran debu, pasir, dan gas dari letusan gunung api juga mengganggu saluran pernapasan.

”Pernapasan yang sehat mampu menyaring materi debu. Namun, terlalu lama terpapar menimbulkan dampak kronis ke saluran pernapasan dan penyakit seperti pneumonia,” ujar Tri Yunis.

Gangguan lain dapat timbul lantaran gas berbahaya. Hidrogen sulfida, misalnya, menyebabkan mual, muntah, dan pusing. Di samping itu, terlalu banyak mengisap karbon dioksida menyebabkan seseorang kekurangan oksigen dan berujung kematian. Demikian juga gas karbon monoksida yang bisa menyebabkan keracunan pada sistem saraf dan jantung.

Tebaran debu vulkanik juga bisa menyebabkan iritasi dan infeksi pada saluran pernapasan dan mata. Karena itu, penggunaan masker membantu pencegahan masuknya bahan polutan ke paru dan saluran napas. Gangguan yang mungkin terjadi karena gas dan abu vulkanik, antara lain, infeksi saluran pernapasan akut, hipersensitivitas, dan perburukan untuk yang sudah terkena gangguan paru sebelumnya.

Info lain yang saya dapatkan dari kaskus.us

Seperti dilansir dari Geology.com, dalam sebuah letusan gunung berapi, pelepasan material seperti gas dan abu vulkanik panas ke atmosfer bisa mencapai lebih dari 22 km dalam waktu kurang dari 10 menit.

Abu vulkanik terdiri dari partikel yang bentuknya tidak teratur, tajam dan bergerigi. Dengan kombinasi dan bentuk yang tidak teratur itu membuat abu vulkanik bersifat sangat menghancurkan.

Setelah abu vulkanik dilepaskan ke udara, angin akan sangat berperan dalam perjalanannya. Gerakan dari letusan gunung ditambahkan dengan turbulensi udara akan membuat abu vulkanik dapat berpindah dengan kecepataan hingga 100 kilometer per jam. Angin juga akan mendistribusikan abu vulkanik ke area yang sangat luas.

Abu vulkanik yang diletuskan dari gunung berapi yang dikenal warga dengan sebutan wedus gembel bisa memiliki temperatur yang sangat panas hingga mencapai suhu 800 derajat celsius (1472 derajat fahrenheit).

Abu vulkanik mengandung silika yang dapat menyebabkan penyakit yang disebut silikosis, yaitu penyakit saluran pernafasan akibat menghirup debu silika, yang menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru.

Risiko lain adalah mengalami gatal-gatal, kulit memerah dan iritasi akibat debu yang ada di udara dan menempel di kulit. Kondisi ini bisa juga diakibatkan oleh kualitas air yang sudah tercemar abu vulkanik.

Debu vulkanik yg terbang tertiup angin yang dikenal dengan hujan abu tersebut menurut Dr. Sunarto, Kepala Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada, mengandung partikel SiO2 atau kuarsa. Kuarsa adalah mineral yang dikenal sebagai bahan baku utama membuat kaca. Mineral ini memiliki kekerasan 7 (Skala Mohs) atau tergolong sangat keras.

Kalau masuk ke mata dan kemudian diucek-ucek maka mata yang tersebut dapat memunculkan luka atau iritasi yang kemudian bisa memicu gangguan kesehatan mata. Jadi kalau terpapar abu/debu vulkanik sebaiknya jangan di-ucek-ucek tetapi langsung dibersihkan dengan air bersih.

Selain berefek negatif pada mata, debu vulkanik juga menimbulkan gangguan saluran pernapasan atas yang memicu munculnya penyakit ISPA.

Adapun Tips menghadapi hujan abu.

  1. Lindungi diri dengan menggunakan pakaian lengan panjang, celana panjang, kacamata dan masker atau tutup kepala.
  2. Bagi yang memakai lensa kontak dianjurkan untuk melepasnya selama terjadi hujan abu.
  3. Bagi para manula, balita dan penderita gangguan pernapasan diharapkan tidak bepergian keluar rumah ketika terjadi hujan abu.
  4. Menutup rapat-rapat jendela dan pintu, serta melindungi alat-alat elektronik yang sensitif terhadap abu dengan kain atau plastik.
  5. Melepas pakaian yang terkena hujan abu ketika memasuki rumah atau bangunan.
  6. Segera menutup sumber air agar tidak tercemar hujan abu.

Sumber: kaskus.us
Sumber: Dr Agung Harijoko, Pakar Vulkanologi UGM

(1018)

2 Comments+ Add Comment

  • Ijin share ya, menarik nih.

    • boleh boleh.. silahkan.

Leave a comment

*